Perjalanan menuju “ON MIPA”

20160525_144144.jpg
April 2016, aku mengikuti seleksi Olimpiade Nasional di Arena Budaya Universitas Mataram. Semua peserta dari Fakultas Kedokteran, FKIP, Kehutanan, Pertanian, Teknik bisa mengikuti seleksi ini. Saat itu aku adalah salah satu mahasiswa semester akhir tepatnya semester 7, bermodal “keisengan”, datang hanya dengan membawa satu buah pena, tanpa ada persiapan sebelumnya. “Udah 3 tahun belajar Biologi masa ngga bisa jawab”, begitu ucap ku dalam hati. Agak meremehkan memang. Sebelum berangkat ke kampus aku selalu meminta doa kepada ibuku, “buk doain ya, mau olimpiade”. Sebelum soal dibagikan, aku mengobrol dengan beberapa orang yang aku kenal, dengan beberapa adik tingkat dan para dosen biologi yang ada disana. Mereka membaca buku “Campbell”, buku yang menjadi kitab dasar manusia – manusia yang berkecimpung dibidang Biologi. Berisi sekitar 800 halaman dengan font berukuran 10 pt, seperti koran dan sedikit sekali gambar didalamnya, satu – satunya yang membuat aku tertarik pada buku tersebut adalah penjelasannya yang mendetail, meskipun bahasanya terlalu kaku dan berbelit – belit. Buku ini merupakan buku terjemahan dari bahasa asing, dengan beberapa Edisi dari jilid 1 sampai Jilid 3. Sebelumnya aku tak berharap mendapat kemenangan, aku mengikuti Olimpiade ini karena aku mahasiswa semester akhir, dan tahun berikutnya mungkin aku sudah wisuda dan tak bisa mengikuti hal – hal semacam ini lagi. Pada akhir masa studi ku setidaknya aku bisa memberikan kontribusi pada kampus ku, bukan hanya jadi mahasiswa yang setelah wisuda hanya tinggal nama saja, begitu fikir ku.

Pukul 08.30 soal dibagikan, mulai dari soal bioteknologi, taksonomi, fisiologi, mikrobiologi, evolusi, soal – soal ini sama sekali tak akrab denganku. Mereka tak bisa diajak berdamai. Soal pilihan ganda sekitar 50 buah, isian, dan soal esai, yang paling aku suka adalah soal esai karena jujur saja aku lebih suka menjelaskan. Materi soal – soal ini sebagian besar dipelajari ketika aku semester 4, 5, dan 6. Maka mahasiswa semester 4,5,6, berpeluang besar untuk lolos seleksi ini. Setelah 1 jam berlalu tak semua soal bisa kujawab, hanya soal esai yang soalnya bisa kujawab semua, meskipun beberapa jawaban adalah jawaban yang aku karang. Setelah 1 jam 30 menit berlalu, salah satu dosen memberikan isyarat bahwa waktu pengerjaan soal sudah habis. Semua jawaban dikumpulkan. Tinggal menunggu pengumuman hasil seleksi.

Seminggu berlalu, aku hanya berdiam diri dirumah. Malas sekali rasanya jika harus ke kampus. Aku terbebas dari segala kuliah, karena semua mata kuliah sudah aku selesaikan ketika semester 6, aku bersyukur karena tidak pernah mengulang mata kuliah. Sampai hari ke 12, salah satu adik tingkat Biologi ku menginformasikan bahwa aku lolos seleksi ON MIPA PT Universitas Mataram, dan menjadi terbaik kedua. Tentu saja aku senang, aku sama sekali tidak menyangka, sesuatu yang benar – benar tidak pernah aku harapkan, hal yang tidak aku usahakan dengan maksimal, mungkin semua berkat doa Ibu fikir ku. Menjadi kedua pun tak apa, aku tetap bersyukur. Aku mengumpulkan biodata peserta paling terakhir, peserta yang lolos seleksi berjumlah 4 orang, ketiga temanku berasal dari fakultas Keguruan, namanya Eza, Qori, dan Lani. Kami memiliki waktu 2 minggu sebelum berangkat ke Bali mewakili Universitas untuk seleksi tingkat Regional 8 (NTB, NTT, Bali). Semenjak menjadi yang kedua, aku selalu belajar, aku berfikir Allah sedang memberi ku kesempatan untuk berusaha dengan maksimal. Kesempatan pertama bisa aku lewati karena doa ibu, kesempatan kedua tak mungkin aku lewatkan tanpa berusaha. Aku membongkar semua buku dan semua slide dosen yang ada. Aku mulai mendownload soal – soal ON MIPA tahun lalu, jujur saja aku pesimis, mengingat peserta lain dari Universitas di Bali, NTT dan tentunya di NTB bukan peserta sembarangan jika bisa sampai ke Bali. Aku mengumpulkan semua resume dan ringkasan yang aku tulis semenjak semester 1. Sudah menjadi kebiasaan ku ketika akan ujian aku selalu membuat ringkasan dengan selembar kertas HVS, ketika ujian aku tak perlu repot – repot membawa laptop atau buku untuk belajar, yang aku bawa hanya selembar kertas HVS, lebih mudah bagiku belajar dengan metode seperti itu. Menulis dan mencatat bisa membuat aku lebih bisa mengingat. semua yang aku tulis bisa aku ingat dengan mudah. Menjelang keberangkatan ku ke Bali, aku banyak sekali meminta doa, dari orang tuaku pastinya, dari anak – anak madrasah, dari teman – teman KKN, bang ical, dosen – dosen biologi dan siapa saja yang ku temui waktu itu.

23 April 2016 aku berangkat ke Bali, bersama ketiga temanku dibidang biologi dan 12 orang lainnya. Perjalanan ini adalah yang pertama bagiku, pertama kali naik kapal laut, rasanya sedikit memusingkan dan tentunya membuat aku mual (baca “mabuk laut”). Tak ingin merepotkan dosen dan teman – temanku yang lain, aku hanya tidur selama perjalanan, meskipun tidak benar – benar terlelap. Sesampai di Padang Bai kami melanjutkan perjalanan ke Denpasar Utara, mencari penginapan untuk beristirahat. Keesokan harinya pukul 07.00 kami sarapan bersama, dan berangkat menuju Universitas Hindu Indonesia. Kedatangan kami disambut dengan tarian adat Bali, dilanjutkan dengan registrasi peserta. Sejujurnya pada saat itu nyaliku ciut, karena melihat peserta yang dari Bali dan NTT sepertinya sangat menguasai materi. Tak jarang mereka saling bertukar soal, membolak – balik halaman buku dan dengan mudah bisa menjawab latihan soal. Aku sebenarnya tak terlalu yakin, sebelum seleksi ini, malam harinya aku menelfon orang tuaku, aku meminta doa dan  restu mereka. Karena tak pernah jauh dari orang tua sebelum nya, ketika menelfon mereka aku sedikit menangis, “dasar lemah’, begitu gerutuku dalam hati. Sama seperti sebelumnya ketika berdoa aku tak meminta kemenangan, aku berdoa “Allah, apapun  hasilnya buatlah hatiku lapang menerima segala kemenangan maupun kekalahan”. Aku tak tahu hasilnya nanti, aku tidak ingin berharap banyak, karena apa seringkali apa  yang menjadi harapku kadang tak terwujud.

bersambung……..

Iklan

Katanya “aku tak perduli”,

Kamu adalah apa yang selalu aku semogakan didalam setiap doa, tak terhitung seberapa sering aku telah menyebutmu, aku tak akan berhenti, aku tak akan pernah bosan. Ada perasaan sesak ketika kamu berbicara bahwa aku adalah seseorang yang tak pernah perduli,  tak pernah peka, bahkan kamu mungkin berfikir aku tak pernah bertindak semestinya. Kamu tahu, ada dua tipe manusia di dunia ini, ada yang memilih menyembunyikan , menutup rapat – rapat celah hatinya dan ada yang memilih untuk mengungkapkan, menjelaskan seterang – terangnya, tak ada isyarat. Aku ingin mencintaimu tanpa isyarat, percayalah aku juga lelah bermain kata – kata, mengartikan setiap pesan yang bahkan otakku saja tak mampu untuk memikirkannya. Kataka saja jangan beri aku tanda, katamu “aku tak peka, aku tak pernah peduli”. Percayalah jika kamu tahu yang sebenarnya kamu akan menyesal pernah berkata demikian. kamu hanya tak tau seberapa besar aku menyembunyikan, seberapa kuat aku menutup rapat semua rahasiaku. Perempuan itu memang pintar menyembunyikan mas, bahkan mungkin rasaku lebih dulu ada dibanding rasamu, hanya saja aku terlalu pintar menyembunyikan. Siapa dia yang kamu sebut ? Benarkah aku atau hanya perasaanku saja yang terlalu percaya diri. Atau bahkan orang lain yang tak pernah kamu tunjukan. Sudah kubilang aku tak ingin terlalu percaya diri, bisa saja semua itu bukan untukku. Dari awal aku memang tak ingin jatuh terlalu jauh, tetapi kekuatan pesonamu jauh lebih tangguh dibanding keteguhanku, percayalah jatuh cinta sepihak itu menyesakkan, sehingga aku menghindari diriku sebelum itu terjadi padaku karna kamu dan tanda – tandamu yang tak kunjung jelas,, tidak memberiku alasan untuk bertahan ataupun memberikan alasan untuk tetap tinggal.
22 maret 2016

Hidup Cuma Satu Kali

Februari 2016
Sampai saat ini aku bertemu dengan banyak orang, yang entah mereka yang hanya singgah lalu pergi, mereka yang akan tetap tinggal, atau mereka yang aku temui hanya satu atau dua hari namun memberikan kenangan dan pengalaman hidup yang luar biasa. Iya, tepat hari ini Rabu, tanggal 3 Februari 2016 aku bertemu dengan seseorang yang sangat luar biasa menurutku, yang memberikan pengalaman hidup yang luar biasa, mungkin satu2nya orang yang paling tegar dan paling tidak menyerah yang pernah aku temui. Namanya Priyandaru Agung E. T., dia mengajarkan bahwa “apapun yang diberikan Allah harus kita syukuri, entah itu kesusahan, kebahagiaan, jangan pernah menyerah, yakin Allah akan memberikan yang terbaik”. Sesuai dengan motto hidupnya “Hidup Cuma Sekali jadi Harus Dahsyat”,. Akan ku ceritakan sedikit bagaimana kisah hidupnya, sehingga kalian bisa mengambil pelajaran dan Bersyukur atas apa yang kalian miliki sekarang. Namanya Priyandaru Agung E.T, dia sedari kecil sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya, sehingga dia tinggal bersama kakek dan neneknya. “Mas Daru” panggilanku kepadanya, mas daru semasa kecil harus merawat kakek neneknya sehingga masa kecil mas daru tidak dihabiskan untuk bermain bersama teman2, melainkan untuk merawat kakek nenek dan bekerja sepanjang malam agar keesokan paginya saat mas daru sekolah, mas daru mendapat uang jajan. Membayangkan anak sekecil itu harus bekerja keras demi untuk sekolah dan menjaga kakek neneknya, seandainya itu adalah aku mungkin aku sudah menyerah dengan keadaan, tetapi tidak dengan mas daru. Betapa usahaku selama ini, aku rasa tidak ada apa2nya dengan apa yang mas daru alami. Apa yang sudah aku berikan kepada orang tuaku selama ini aku rasa bukan apa – apa, aku merasa aku harus berusaha lebih keras, lebih giat, tidak gampang mengeluh, harus jadi lebih kuat. Aku yakin setelah semua yang mas daru alami, mas daru akan tumbuh menjadi anak kuat dan menjadi kebanggaan setiap orang, termasuk kebanggaanku. Cerita mengenai masa kecil dan usahanya mengalir begitu lancar dari mulutnya, aku hanya mendengarkan dia bercerita., sesekali mas daru menunjuk dan mengajak kami berbicara. Selama masa kecilnya mas daru menabung agar bisa kuliah, dia bercerita dia selalu menabung uang hasil kerja kerasnya untuk sekolahnya, katanya ” mas daru dulu ngga nyangka kalo bisa kuliah, ngga kefikiran bisa kuliah”, mas daru kuliah di Universitas Brawijaya fakultas perikanan, yang paling menyentuh hatiku adalah disaat mas daru bertemu dengan ibunya, bagaimana rasanya kehilangan ibu selama itu ? Aku tak bisa membayangkannya, aku saja jika menginap disalah satu rumah sahabatku, aku tak bisa tidur karna memikirkan ibu dan ayahku. Terimakasih mas karna telah mengajarkan bahwa hal yang harus aku jaga dan aku perjuangkan adalah kedua orang tuaku, kerja kerasku selama ini tak ada artinya dibanding usaha mereka. Setelah itu mas daru kini tumbuh menjadi pemuda dewasa yang mandiri,, menjadi orang sukses, aku tak heran kenapa mas daru bisa sukses sampai seperti ini, Allah akan memudahkan siapa saja yang mau berusaha dan bekerja keras, seperti mas daru sedari kecil sudah berusaha sekeras itu sehingga di masa muda Allah melancarkan segala usahanya,  ikhtiarnya, segala yang dia lakukan. Tidak ada usaha yang sia – sia tinggal tunggu saja waktunya, Allah akan memberikan waktu yang tepat. “Faabiayyiala irobbikuma tukazziba”, “maka nikmat Allah yang mana yang kamu dustakan”. Sehingga sekarang aku tahu tujuanku, aku tahu apa yang harus aku perjuangkan, semoga suatu saat mas daru bertemu dengan seseorang yang bekerja keras sama seperti mas daru, jodoh kita adalah cerminan dari diri kita sendiri, aku percaya Allah akan memasangkan yang baik dengan yang baik pula, Aku bersyukur karna Allah telah mempertemukanku dengan sosok yang sangat memotivasi. Terimakasih mas daru pengalaman hidupnya 🙂 Dahsyaat. MSI will missing you